Skip to main content

Dua Ekor Kebahagiaan

Kebahagiaan bisa datang dari mana saja. Dan setiap orang pasti punya bahagianya masing-masing dengan cara yang berbeda-beda juga. Entah itu datang ke konser band favorit, makan makanan kesukaan, tim sepak bola yang disukai menang atas rival, melakukan hobi, berhasil diet, ngobrol bersama seseorang yang sefrekuensi, kerjaan mencapai target, tidur nyenyak, atau masih banyak lagi.

Kebahagiaan tidak bicara tentang seberapa banyak uang yang dikeluarkan, atau bagaimana orang memperlakukan dirimu. Kebahagiaan juga tidak selalu berbicara tentang dirimu, tapi bagaimana kamu juga melakukan untuk orang lain. Sumber kebahagiaan bisa banyak sekali, tapi kalau mau ke Sumber Bahagia aku ikut, mau beli kamera juga he..he..he

--

Salah satu kebahagiaan kecil juga datang ke keluargaku, tepatnya akhir 2021 lalu. Siang itu lagi panas-panasnya bulan Oktober, padahal biasanya sudah datang musim hujan. Kebetulan lewat penjual keliling Susu Murni Nasional yang sudah terdengar lagunya sejak di ujung gang rumahku, pas juga lagi pingin minum yang segar-segar. Keluarlah Joel dari dalam rumah untuk beli susu yang per gelas harganya dua ribu rupiah tersebut. Saat lagi milih varian rasa, terdengar suara nyaring meong-meong yang ternyata bapak penjual susu membawa tiga ekor anak kucing yang barusan lahir. Ketiganya terbungkus dalam kresek. "Saya tadi lewat kampung sebelah lihat anak kucing tapi nggak ada induknya, lama saya tungguin sampai akhirnya saya angkut aja untuk dipelihara mas," kata si bapak ketika Joel bertanya kok bisa bawa anak kucing banyak.

"Masnya mau?"

Sedikit bingung, Joel akhirnya mengiyakan tawarannya. "Saya ambil yang hitam ya pak."

Terjadilah transaksi itu. Joel bayar enam ribu untuk tiga gelas susu coklat dingin, dan satu ekor bayi kucing hitam. Joel kasih nama Cia.

 --

Menjelang Natal Cia mendapat teman baru. Ceritanya aku sama Joel sedang berangkat ke gereja melalui jalan pintas yang biasa kami lewati. Di depan rumah kosong yang tumbuh alang-alang, aku lihat ada buntalan bulu kecil yang samar-samar tertutup bayangan. Ternyata kucing kecil yang sedang kedinginan, terlihat dari keempat kakinya yang bersembunyi di bawah tubuhnya serta ekor mungilnya yang ikut terlipat ke dalam. Aku bergegas turun dari motor dan mengambil kucing mungil ini sesaat sebelum dia mencoba lari ke arah rerumputan.

"Joe ayo puter balik!! Mumpung masih deket." hebohku sambil kembali naik motor menyaingi hebohnya kucing yang teriak sambil meronta seolah minta untuk dilepas. Begitu sampai di rumah, langsung aku taruh di kardus untuk dipisahkan dengan Cia karena ternyata banyak banget kutunya. Apalagi kucing baru ini berwarna oranye, makin kontras antara kutu dan warna tubuhnya.

Sepulang dari gereja aku lihat kucing ini sedang terdiam. Kuusap halus kepalanya pakai jariku. Tak lama akhirnya kucing ini tertidur, yang kemudian kuberi nama Hana.

--

Sebenarnya mami nggak setuju pelihara kucing, apalagi langsung dua. Mami takut sama kucing kecil, geli katanya karena bulu-bulunya yang masih jabrik. Apalagi Cia, waktu kecil kayak tikus karena warnanya full hitam, makin takutlah mami. Waktu aku dan Joel bawa Cia dan Hana awal-awal masuk ke rumah itupun tanpa sepengetahuan mami. Tapi berjalannya waktu mami mulai nerima karena melihat usaha kami merawat mereka, mulai dari meminumkan susu pakai spet hingga dot, bangun setiap beberapa jam sekali membawa mereka ke kamar mandi untuk pipis, hingga membersihkan pipis/pup kalau kecolongan. Mami juga lihat sendiri proses perkembangan Cia-Hana dari awal hingga agak besar, mungkin di situ juga jadi timbul rasa sayang. Yap, memang ada benarnya kalimat lebih baik meminta maaf dari pada meminta izin.

Adanya dua kucing di rumah secara nggak sadar bikin kami lebih sering ngumpul dan interaksi satu sama lain. Kalian pernah ngalamin nggak dipersatukan karena sebuah kesamaan? Itulah aku dan keluargaku, yang jadi makin hangat karena sama-sama memelihara dan merawat kucing-kucing ini. Tingkah mereka sering buat ketawa mulai dari posisi tidur, cara mereka pipis di kamar mandi, mengeong untuk minta makan, capernya kalau lagi nggak ada yang ajak main, gelut dan kejar-kejarannya mereka, sampai tiap pagi yang selalu bangunin mami dengan gigit jari-jari kaki.

Dua kucing ini punya sifat yang beda 180°. Cia tipe lemot, nggak antusias kalau diajak main apapun, sukanya kabur sampai pernah dua malam nggak pulang, nggak suka dekat sama orang, sedikit makan, lebih tenang kalau lagi dimandikan/dibersihkan telinganya/dipotong kukunya. Kalau Hana kebalikannya banget deh. Tapi mereka sama-sama cantik 😻

Lucunya lagi ketika tulisan ini dibuat, Hana nemenin di kamar sampai ketiduran. Manisnya...


Kami bikin Instagram yang isinya mereka, kalau mau mampir langsung aja cari @cia_hana_thecats ^_^

Comments

Popular posts from this blog

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Yaaapp! Kalian tau siapa foto opa diatas? Beliau adalah Abraham Alex Tanuseputra. Gembala senior gereja Bethany. Aku cuma mau membagi ke pembaca tentang kerja kerasnya dari nol sampai sekarang ini ;) "Dulu, dulu banget, Pak Alex bergereja di Pacet. Sejak dari muda semangatnya ke Tuhan sudah tinggi. Sering pelayanan sama saya, tapi saya di GKJW daerah sana, nggak satu gereja sama dia. Sampai akhirnya, saya harus pindah rumah karena mengikut suami saya yang sebagai camat yang ditugaskan pindah daerah. Semenjak itu juga Pak Alex pindah ke Manyar Sindaru, Surabaya. Jadi jarang ketemu. Sampai akhirnya terbentuklah Gereja Bethany Manyar. Awal terbentuknya gereja itu dari persekutuan di bagasi rumah, sampai akhirnya berkembang, berkembang, dan berkembang lalu terbentuklah gereja tersebut. (foto gedung dari depan tidak ada) Belum lama setelah itu, Pak Alex bermimpi membangun gereja yang lebih besar lagi, Banyak orang yang meragukan, tetapi dia tetap percaya aja ...

Back to Reality

Jam di handphoneku menunjukkan pukul 21.43, itu berarti sudah 15 menit aku menunggu di Indomaret. Di tempat ini menjadi lokasi penjemputan ketika pacarku, Intan, balik ke Surabaya setelah pulang dari kota asalnya Malang menaiki bis. "Tumben kok lama," dalam hatiku. Padahal, sepanjang perjalanan, aku tidak ngebut dan bahkan mengendarai motorku dengan santai berharap supaya bisa datang bersamaan, atau paling tidak waktunya berdekatan. "Ini masih macet di Medaeng ya, Sayang," sebuah notif chat WhatsApp muncul di layar handphoneku. Aku langsung membuka Google Maps dan mencari tahu jarak kedua titik ini. Sudah dekat, cuma berjarak tiga sampai empat menit. "Iya aku tunggu, Sayang," balasku sambil mendongak ke atas melihat langit hanya berharap supaya tidak hujan seperti di rumah saat berangkat tadi. Sambil menunggu Intan, aku memandangi sekeliling. Tidak seperti biasanya, kali ini ramai sekali orang yang menunggu di sini. Banyak yang sudah menunggu jemputan baik...

Resolusi Kecil yang Membutuhkan Komitmen Besar

Bagi sebagian orang, tahun baru adalah sebuah titik penanda untuk melakukan sesuatu. Aku punya teman yang setahun sekali potong rambut di saat Imlek, mungkin baginya penampilan baru di tahun yang baru bisa membawa keberuntungan yang baru pula. Buang sial, istilahnya.. Beberapa orang yang pernah aku ajak ngobrol pun demikian, "Oke, mulai tahun ini aku akan mengurangi merokok." "Besok 2024 minimal sebulan sekali aku datang ke event cosplay." "Aku mau nabung setengah dari gajiku tiap bulan per Januari." Atau banyak resolusi lain yang mungkin kamu sudah rencanakan untuk tahun ini. Begitupun aku, ada janji-janji yang ingin aku tepati di tahun yang baru ini. Puji Tuhan setidaknya dalam sebulan ini aku bisa mencapainya, dan nggak ada salahnya berbangga akan diri sendiri.  Yang pertama. Satu bulan satu buku. Dari dulu aku tahu kalau membaca itu banyak banget manfaatnya, tapi sulit banget untuk dilakukan. Banyak buku yang nggak habis kubaca karena bosan, terdistrak...